Universitas Gadjah Mada Doktor Ilmu Kehutanan
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Berita
  • Kuliah Umum Bersama Dr. Daniel Mendham bertajuk “The Urgency to Unleash the Nature Positive Economy for Peatlands in Indonesia: Lessons from Gambut Kita Research Project”

Kuliah Umum Bersama Dr. Daniel Mendham bertajuk “The Urgency to Unleash the Nature Positive Economy for Peatlands in Indonesia: Lessons from Gambut Kita Research Project”

  • Berita, Slide ID
  • 30 Juli 2025, 13.44
  • Oleh: s3ilmukehutanan
  • 0

Yogyakarta, 29 Juli 2025 — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan kuliah umum dengan menghadirkan Dr. Daniel Mendham, Principal Research Scientist dari CSIRO Environment, Australia. Acara ini mengangkat tema “The Urgency to Unleash the Nature Positive Economy for Peatlands in Indonesia: Lessons from Gambut Kita Research Project” dan dimoderatori oleh Tri Wira Yuwati, S.Hut., M.Sc., peneliti senior di Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN dan juga sebagai mahasiswa aktif di Program Studi Doktor Ilmu kehutanan (PSDIK) Fakultas kehutanan UGM.

Dalam pemaparannya, Dr. Mendham menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 40 juta hektar lahan gambut yang menyimpan cadangan karbon global, sekaligus habitat keanekaragaman hayati dan sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat. Sayangnya, degradasi lahan gambut telah menimbulkan persoalan serius, mulai dari emisi karbon tinggi, kebakaran hutan dan lahan, hingga kerentanan ekonomi komunitas lokal.

“Restorasi gambut sering dianggap beban negara karena biaya tinggi dan hasil terbatas. Padahal, bila dikelola dengan kerangka nature-positive economy, restorasi dapat menjadi peluang besar untuk menurunkan emisi karbon, melestarikan keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Dr. Mendham.

Ia menekankan bahwa solusi restorasi harus berangkat dari kebutuhan masyarakat lokal. Selama ini, banyak program gagal karena tidak sesuai dengan kepentingan ekonomi warga, misalnya revegetasi yang memakan biaya besar tetapi tidak memberi manfaat langsung. Menurutnya, pemerintah perlu mengubah pendekatan dari sekadar pendana proyek menjadi fasilitator regulasi dan pasar, agar insentif global untuk konservasi benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat tapak.

Sesi diskusi berjalan aktif dengan keterlibatan peserta secara luring di Fakultas Kehutanan UGM dan daring melalui zoom meeting. Muncul beberapa pertanyaan dalam diskusi, di antaranya mengenai definisi restorasi yang berbeda-beda di tingkat komunitas, ketidakselarasan antara kepentingan donor internasional dengan realitas lokal, serta tantangan menjaga keberlanjutan program setelah proyek selesai. Salah satu peserta dari Fakultas Kehutanan menyoroti pentingnya proses restorasi berbasis komunitas. Menurutnya, masyarakat seringkali memiliki cara sendiri dalam memperbaiki lahan, yang belum tentu sama dengan konsep restorasi dari luar. Menanggapi hal tersebut, Dr. Mendham menekankan perlunya co-development, yakni perumusan strategi bersama komunitas sejak awal, sehingga program benar-benar sesuai konteks lokal dan berkelanjutan.

Peserta lainnya menanyakan bagaimana mencegah “elite capture” atau dominasi kelompok tertentu dalam skema insentif restorasi. Dr. Mendham menjawab bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam membangun regulasi, tata kelola, dan sistem insentif yang memastikan manfaat tidak hanya berhenti di tingkat perusahaan atau lembaga perantara, tetapi sampai ke masyarakat akar rumput. Isu kelanjutan program pasca-proyek juga menjadi sorotan. “Banyak program berhenti ketika dana habis. Tantangan kita adalah membangun sistem ekonomi yang berjalan sendiri, bukan tergantung donor,” jelas Dr. Mendham. Ia menambahkan bahwa dengan nature-positive economy, masyarakat bisa memperoleh manfaat langsung dari menjaga gambut, misalnya melalui perdagangan kredit karbon atau sertifikat keanekaragaman hayati.

Diskusi juga mengulas tantangan teknis, seperti efektivitas sumur bor untuk pencegahan kebakaran dibanding canal-blocking, hingga keterbatasan opsi tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut yang sudah di-rewetting. Dr. Mendham menekankan bahwa solusi teknis harus berjalan beriringan dengan solusi ekonomi, agar masyarakat memiliki insentif nyata untuk mengadopsinya. Kegiatan ini mempertegas komitmen Fakultas Kehutanan UGM dalam mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain SDG 1: tanpa kemiskinan; SDG 8: pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, melalui model ekonomi berbasis alam yang berpihak pada masyarakat lokal; SDG 13: penanganan perubahan iklim, melalui upaya menurunkan emisi karbon dari lahan gambut; dan SDG 15: ekosistem daratan, dengan menjaga keanekaragaman hayati dan keberlanjutan ekosistem gambut.

Kegiatan ini mengulas kembali pentingnya kolaborasi internasional, riset berbasis bukti, dan pendekatan lintas disiplin dalam mencari solusi bagi pengelolaan gambut Indonesia. Fakultas Kehutanan UGM berkomitmen untuk terus menjadi pusat diskusi akademis dan jejaring kolaborasi, yang tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah tetapi juga mendorong transformasi nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Penulis : R. Zalfa; Nur Aini F.
Editor : Pengelola PSDIK
Dokumentasi : Nur Aini F.

Tags: KULIAH UMUM PSDIK FKT UGM SDG 4 : PENDIDIKAN BERKUALITAS SDGS 13 SDGS 15 SDGS 8

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Program Studi Doktor Ilmu Kehutanan
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro No.1, Kampus UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Indonesia 55281
(0274) 584126
s3ilmukehutanan@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY